Tampilkan postingan dengan label tulisan orang :D. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan orang :D. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juni 2014

kisah :)

Bismillah

Dari kitab Hayatussahabah, copas dari b’ Abdurrahman Abd .. :
Sahabat Rasullullah, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang cukup terpandang dan kaya, tapi demi agama Allah dan hidup bersama Rasullullah…seluruh Hartanya di korbankan di Jalan Allah, dalam membantu
perjuangan Rasullullah dan Berdakwah bersama Rasullullah dan para sahabat lainnya untuk menyampaikan Agama Islam. Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu Ketika hendak berangkat ke Tabu bersama Rasullullah, habis hartanya…,sehingga yang ada hanya sapu lidi beserta gagang sapu itu (sejenis sapu ijok) untuk diserahkan ke Rasullullah. Pada suatu hari Rasullullah dan para sahabat mau melaksanakan Shalat berjamaah, Baginda Rasullullah tidak melihat Abu Bakar, lalu Baginda bertanya,
"kemana Abu Bakar tidakkelihatan…?”
para sahabat menjawab,  ’Abu Bakar tidak bisa keluar ya Rasulullah…tidak ada
pakai yang bisa untuk menutupi tubuh Abu Bakar”’
lalu Rasullullah mengutus Sayyidina Ali kerumahnya, yang ada hanya karung tua, berikan ke Abu Bakar. “suruh dia datang kemari”, kata Rasullullah kepada sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu. Sesampai dirumah Abu Bakar, Sayyida Ali menyerahkan Karung tua agar dipakai dan Rasullullah menunggu anda di
mesjid. Sebelum Abu Bakar tiba di mesjid, duluan tiba Malaikat Jibril AS dari langit, dengan menggunakan pakaian karung tua, selalu Jibril AS datang bertemu dengan Rasullullah, dengan laki-laki yang tampan berbaju putih, rambut tersisir hitam dan rapi, tetapi pada hari itu…JIbril AS datang dengan menggunakan pakaian karung tua, yang tertambal disana-sini, lalu Rasullullah bertanya kepada Jibril AS,
"Wahai Jibril, kenapa kamu datang sepertiini…?”
“Wahai Muhammad, ketahuilah bahwa sesungguhnya bukan hanya aku saja seperti ini, hari ini seluruh Malaikat di Bumi, seluruh Malaikat di Langit…Hattam Habalatul ‘ans, Malaikat pemanggul ‘ans semua mengenakan pakaian seperti ini untuk memuliakan Abu Bakar Sahabatmu ya Muhammad”. Sebentar lagi Abu Bakar akan datang dalam keadaan seperti ini, Wahai Muhammad Aku diutus oleh Allah untuk menyampaikan salam Allah kepada Abu Bakar. Dan Allah bertanya wahai Muhammad…,apakah dia ridho kepada Allah…?” Pergi Jibril dan datang Abu Bakar.., Rasullullah dan bersama para Sahabat masih dalam keadaan menagis di Mesjid, Abu Bakar bingung…kenapa menagis.., apa mereka menangis, kecewa karena aku terlambat datang.., “Wahai Abu Bakar” Kata Rasullullah, “barusan Jibril datang dengan berpakaian seperti kamu dan memberitahu seluruh Malikat di Bumi dan Malaikat di Langit menggunakan pakaian seperti kamu, untuk memuliakan kedudukanmu di sisi
Allah. Allah berkirim salam kepadamu wahai Abu
Bakar”,  Abu Bakar bertanyak “Ya…Rasullullah…adakah Allah menyebut-nyebut namaku…?”….”Ya….Allah menyebut namamu, benar Allah menyebut namamu wahai Abu Bakar” kata Rasullullah.., “Allah bertanya dengan kamu wahai Abu Bakar…adakah engkau Ridho denganAllah…?”, disinilah…Abu Bakar menagis dengan tangisannya yang sangat keras, sambil berteriak kepada Rasullullah..,
" Ya Rasullullah…..mengapa Allah bertanyak..apakah aku ridho kepada Allah.., akulah yang seharusnya bertanyak…dengan kehidupanku pada hari ini apakah Allah ridho kepadaku…?”
Rasulullah menjawab, “ya… Allah ridho kepadamu wahai Abu Bakar”, Abu Bakar menagis dan memeluk Rasulullah.

inilah kisah para Sahabat Baginda Rasullullah saw, adakah harta kita, kita korbankan di jalan Allah? Kita…,Rumah besar, tempat tidur empuk dengan harga jutaan, ber AC, mobil satu,dua ngak cukup dua ..tiga dirumah, punyak
kartu kredit, tabungan banyak, makan enak, pakaian mewah dan mahal…apakah yang telah kita korbankan di Jalan Allah…apakah Allah Ridho kepada kita….? padahal itu semua harta milik Allah.
 

Senin, 19 Mei 2014

:) dengan seizin Allah Swt


منقول.....
عباره جمیله للدكتور عایض القرني ـَـَََـَـَـَـَََـَـَـَََـَـَ ـَـَـَـَََـَـَ ََـَـَـَـَََـَـَ
Kalimat indah dr Dr. aid alqrni
نحن لا نملك تغییر الماضي
Kita tdk bisa merubah yg telah terjadi
و لا رسم المستقبل ..
Jg tdk bisa menggariskan masa depan
فلماذا نقتل انفسنا حسره
Lalu kenapa kita bunuh duri kita dg penyesalan?
على شيئ لا نستطیع تغییره؟
Atas apa yg sdh tdk bisa kita rubah
الحیاه قصیره وأهـدافها كثيره
Hidup itu singkat sementara targetnya banyak
فانظر الى السحاب
و لا تنظر الى التراب ..
Tataplah awan dan jgn lihat ke tanah
اذا ضاقت بك الدروب
فعلیك بعلام الغیوب
و قل الحمدلله على كل شيئ
Kalau merasa jalan sdh sempit, kembalilah ke Allah yg maha mengetahui yg gaib, ucapkan alhamdulillah atas apa pun jua
سفينة (تايتنك) بناها مئات الاشخاص
Kapal titanic dibuat oleh ratusan orang
وسفينة ( نــوح ) بناها شخص واحد
Kapal nabi nuh dibuat hanya satu orang
الأولى غرقت والثانية حملت البشــرية ..
Titanic tenggelam kapal nuh menyelamatkan umat manusia
التوفيق من الله سبحانه وتعالى
Taufik hanya dari Allah
نحن لسنا السكان الأصليين
لهذا الكوكب الأرض !!
بل نحن ننتمي إلى ( الجنّة )
Kita bukan penduduk asli bumi, asal kita adalah surga
حيث كان أبـونا أدم
يسكن في البداية
لكننا نزلنا هنا مؤقتاً
لكي نؤدّي اختبارا قصيرا
ثم نرجع بسرعة ..
Tempat asal org tua kita adam, kita tinggal di sini sementara utk melaksanakan ujian lalu segera kembali
فحاول أن تعمل ما بوسعك للحاق بقافلة الصالحين التي ستعود إلى وطننا الجميل الواسع
ولاتضيع وقتك في هذا الكوكب الصغير
Berusahalah semapumu utk mengejar kafilah org2 salih, yang akan kbali ke tanah air yg sgt luas
Jgn sia2kan waktumu di planet kecil ini
الفراق: ليَس السفِر، ولا فراق الحب،حتىّ الموت ليس فراقاْ سنجتمَع في الآخره
الفراق هو:
أن يكون أحدنا في الجنه،
والآخر في النار
جعلني ربي واياكمَ من سكان جنته..
Perpisahan itu bukan pergi jauh, atau perginya org tercinta, kematian pun bukan perpisahan, kita pasti akan bertemu di akhirat
Perpisahan itu adalah salah satu diantara kita di surga dan yg lain di neraka.
Semoga kita dijadikan penghuni surga
والحياه ما هي إلا قصة قصيرة !!
( من تراب . على تراب . إلى تراب )
( ثم حساب . فثواب . أو عقاب )
Hidup ini adalah cerita pendek, dari tanah, di atas tanah, kembali ke tanah, lalu hisab pahala atau siksa
فعش حياتك لله - تكن أسعد خلق ﷲ
اللهم لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك
Hiduplah utk Allah niscaya kau akan jadi makhluknya yg paling bahagia
Ya rabb utkmu segala puji yg layak utk kemuliaan wajahMu dan keagungan kekuasanMu

Jumat, 17 Mei 2013

umi umi umi abi

Bismillah.
#tere liye

Bunda,
Saat kami bayi, engkau orang terakhir tidur setelah dunia lelap,
bahkan boleh jadi tidak tidur, agar kami bisa nyenyak.
Dan engkau pula yang pertama kami lihat saat terjaga.

Bunda,
Saat kami kanak-kanak, engkau orang terakhir yang putus rasa sabarnya,
bahkan boleh jadi tidak pernah, walau orang2 lain telah jengkel setengah mati
... Dan engkau pula yang pertama membesarkan hati.

Bunda,
Saat kami gagal, engkau orang terakhir yang berputus asa,
bahkan boleh jadi tidak pernah, meski seluruh dunia sudah berhenti berharap
Dan engkau pula yang pertama menghibur.

Bunda,
Saat kami sakit, engkau orang terakhir yang bertahan menemani,
bahkan boleh jadi tidak pernah pergi, meski sekitar telah kembali sibuk
Dan engkau pula yang pertama berbisik kabar kesembuhan.

Bunda,
Saat kami ragu2, engkau orang terakhir yang hilang keyakinan,
bahkan boleh jadi tidak pernah pergi, meski sekitar telah menyerah
Dan engkau pula yang pertama berbisik tentang janji-janji.


Walaupun,
Saat kami besar, boleh jadi engkau orang terakhir yang kami hubungi,
bahkan boleh jadi tidak pernah, karena alasan sibuk atau apalah

Walaupun,
Saat kami bahagia, boleh jadi engkau orang terakhir yang tahu,
bahkan boleh jadi benar2 amat terlambat, karena alasan tidak sempat atau apalah

Bunda,
Di antara bisik doa-doa-mu, sungguh terselip beribu nama kami
Dan boleh jadi itulah yang membawa kami hingga seperti hari ini
Engkau orang terakhir yang akan berhenti mendoakan kami,
bahkan boleh jadi tidak pernah berhenti, hingga akhir hayat.
Dan sungguh, Engkau pula orang pertama yang mengucapkan kata Amin bagi kami.

Bunda,
Kami merasa itu marah-marah. Ternyata itu sungguh kasih sayang.
Karena jelas, orang2 yang sebenarnya tidak menyayangi kami,
tidak akan marah-marah saat kami akan melakukan sesuatu yang buruk bagi kami.

Bunda,
Kami merasa itu cerewet. Ternyata itu sungguh kepedulian
Karena jelas, orang2 yang sebenarnya tidak peduli pada kami,
... akan diam saja saat kami akan merusak diri sendiri.

Bunda,
Kami merasa itu banyak peraturan. Ternyata itu sungguh kebebasan
Karena jelas, orang2 yang memuja kebebasan,
malah menggoda kami untuk melewati batasnya.

Bunda,
Saat semua itu sudah terjadi, saat orang lain pergi, tidak peduli, tertawa dengan mainan barunya,
maka hanya Bunda yang tetap menunggu
Sungguh terlalu banyak salah-paham yang kami lewati
Maka semoga kami tidak terlambat untuk menyadarinya

"Moga Bunda Disayang Allah"
 

Sabtu, 06 April 2013

Jihad

Bismillah.
Jihad itu gak sekedar semangat,
tapi juga wawasan.

Jihad itu gak sekedar mati karena Allah,
tapi juga menyebar di muka bumi karena Allah,

Jihad itu bukan meledakkan saudara2nya,
tapi memberdayakan mereka.

Jihad itu bukan hanya dakwah kampus,
... tapi juga menguasai ekonomi, politik, budaya, media, informasi, semuanya !

Jihad itu bukan cuma partai,
tapi juga hal hal kecil yg kita lakukan untuk orang lain.

Jihad itu bukan saja perang,
tapi juga bekerja, menuntut ilmu, berbisnis, menafkahi keluarga.

Jihad itu bukan hanya mati syahid,
tapi juga hidup mulia.
 
 
-mikhael syauqi-

Rabu, 27 Maret 2013

Waktu


Bismillah.


Korupsi waktu adalah korupsi. Mau 30 detik, mau hanya 1 menit, tetap saja korupsi waktu.

Jika kita masih melakukannya, mari terus beranjak lebih baik. Diakui kalau kita memang masih korup. Sambil terus berusaha agar semakin berkurang hingga sama sekali tidak. Nah, jangan dibantah, jangan ngeles, jangan cari argumen. Nanti kita terbiasa loh.

Urusan ini bukan soal lebay atau tidak. Tapi soal menjaga kehormatan diri sendiri.

Tere Liye

Al Qur'an

Bismillah.

...

Sampai kita lupa (atau jangan2 kita semua memang sengaja dibuat lupa dgn berita itu), bahwa, mukjijat terbesar dalam agama ini justeru ada di rumah kita sendiri: Al Qur'an.

Tere Liye

Sabtu, 09 Februari 2013

pak anis matta

------MERUBAH M...INDSET-------
by : Anis Matta, Lc (Soekarno Muda)

Saya punya 1 halaqah yang terdiri dan anak-anak LIPIA, Mereka datangnya dari kampung, dari pesantren semuanya. Saya tahu mereka ini membawa background, di backmindnya itu ada psikologi orang kampung yang tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya. Saya tanya kamu nanti setelah selesai dari LIPIA mau kemana? Mereka bilang Insya Allah kita mau pulang ke kampung mengajar di Ma’had, mengajar Bahasa Arab, Suatu hari saya ajak mereka, hari ini tidak ada liqa’, tapi saya tunggu kalian di Hotel Mulia. Saya ada di suatu tempat dan mereka tidak melihat saya. Saya suruh mereka berdiri saja di lobby. Mereka datang pakai ransel karena mahasiswa datang pakai ransel, diperiksa lama oleh security. Karena penampilannya sebagai orang miskin dicurigai membawa bom. Saya lihat dari atas. Itu masalah strata, kalau antum datang pakai jas dan dasi tidak ada yang periksa antum di situ, karena yang datang pakai ransel tampang kumuh. Kemudian mereka bertanya di mana antum ustadz, saya bilang antum tunggu saja di situ. Saya dekat dengan mereka tapi mereka tidak melihat, saya hanya memperhatikan apa yang mereka lakukan. Kira-kira 2 jam mereka saya suruh di situ, mondar-mandir di lobby. Minggu depan saya tanya apa yang antum lihat disana. Orang lalu lalang, jawab mereka.

Saya tanya, pertama, apakah ada satu orang yang lalu lalang yang antum lihat yang mukanya jelek, dia bilang tidak ada. Semuanya ganteng-ganteng semuanya cantik-cantik. Jadi ada korelasi antara wajah dan kekayaan, Makin kaya seseorang makin baik wajahnya. Kedua, ada tidak yang memakai pakaian yang tidak rapi kecuali antum. Dia bilang tidak ada, semuanya rapi. Jadi dengan latihan seperti ini pikirannya sedikit mulai terbuka. Karena ia membawa bibit dalam pikirannya untuk menjadi orang miskin. Sekarang alhamdulillah mereka bertiga sekarang ini sedang kuliah di Ul ambil S2 Ekonomi Islam.

Ikhwah sekalian jadi kita perbaiki insting kita. Pertama kali kita perbaiki tsaqafah kita. Jadi hadirkan buku-buku itu ke dalam rumah dan mulai dari sekarang anak-anak kita juga mulai diajari tentang uang. Ikutilah kursus-kursus tentang enterpreneurship supaya kita dapat memperbaiki dulu citra kita tentang uang.

Kedua, menyiapkan diri untuk menjadi kaya. Orang-orang kaya yang bijak itu mempunyai nasehat yang bagus, mereka mengatakan “sebelum Anda menjadi kaya latihanlah terlebih dahulu menjadi kaya”. Hiduplah dengan hidup gaya orang kaya. Orang kaya itu optimis. Bagi orang kaya biasanya tidak ada yang susah. Bagi mereka semuanya mungkin, karena itu mereka selalu optimis. Jadi yang harus dihilangkan dari kita itu adalah pesimis. Saya punya seorang teman sekarang menjadi kaya, dia datang ke Jakarta hanya sebagai pelatih karate dan tidak ada duitnya, tapi supaya tidak ketahuan oleh istrinya bahwa dia tidak punya pekerjaan, setiap habis sholat subuh dia pergi lari olahraga, setelah itu dia memakai pakaian rapi lalu keluar rumah. Dia juga tidak tahu mau kemana yang penting ke luar rumah. Istrinya tidak tahu kalau dia tidak punya pekerjaan. Nanti di jalan baru ditentukan siapa yang dia temui hari ini.

Langkah pertama perbaiki dahulu sirkulasi darah kita, olahraga dulu, supaya wajah segar makan yang banyak. Banyaklah makan yang enak, daging. Sering-sering makan yang enak. Menurut Utsman bin Affan makanan paling enak itu adalah kambing muda. Setiap hari mereka makan kambing muda. Makan yang enak, olah raga yang bagus supaya wajah kita berseri. Syeikh Muhammad Al-Ghozali dalam kitab Jaddid Hayataka mengatakan kenapa orang-orang Barat itu pipinya merah, karena sirkulasi darahnya bagus, gizinya bagus. Sedangkan kita orang-orang timur kalau ketemu itu auranya pesimis, tidak ada harapan. Biasakanlah kalau orang ketemu kita ada harapan yang terlihat, makanya kalau pilih warna baju pilihlah yang cerah-cerah, Ibnu Taimiyah mengatakan ada hubungan antara madzhab dan batin kita, pakaian apa yang kita pakai itu mempengaruhi kondisi kejiwaan kita. Jangan pakai pakaian orang tua. Ada anak umur 25 tahun pakaiannya pakaian orang tua, bagaimana nanti kalau umurnya 50 tahun pakaiannya seperti apa. Tampillah sebagai anak muda. Cukur rambut yang bagus, cukur kumis yang rapi janggut dirapikan. Rapi, supaya kita kelihatan ada optimisms. Belajarlah sedikit latihan menatap supaya sorotan mata kita kuat, perlu sedikit latihan menatap. Misalnya di pagi hari atau sore hari menjelang matahari terbenam, antum tatap matahari dan tidak berkedip matanya. Kalau bisa antum bertahan 1 menit itu bagus, Latihan saja sendiri. Di dalam kamar ambil lilin, matikan lampu, antum tatap itu lilin dan matanya tidak berkedip dan tidak berair. Nanti kaiau sudah terbiasa pandangan matanya kuat. Jadi kalau olahraga teratur, sirkulasi udara bagus, pikiran jadi segar, tsaqafah kita bertambah mulai memakai pakaian yang cerah-cerah. Makanya Rasulullah itu senangnya memakai baju putih. Jangan pakai yang gelap-gelap atau warna yang tidak menunjukan semangat hidup. Jangan juga berpenampilan seperti orang tua. Sekadar untuk menunjukkan kita ini kelompok orang-orang shaleh kita pakai baju taqwa, itu pakaian orang Cina, pakailah baju yang segar agar dapat menunjukkan bahwa kita ada semangat. Walaupun Anda sudah berumur pun tetap pakai pakaian yang muda, jangan berpenampilan tua, Artinya kita harus merendahkan diri, sebab uban tanpa diundang dia akan datang. Tadi tidak perlu menua-nuakan diri dengan sekadar tampil kelihatan dewasa, tua, bijak. Tampillah sebagai anak muda yang gesit dan optimis.

Ketiga, bergaullah dengan orang-orang kaya, perbanyak teman-teman antum dan kalangan tersebut. Ini tidak bertentangan dengan hadits yang mengatakan dalam bab rezeki lihatlah kepada yang dibawah dan jangan lihat kepada yang di atas. Antum tidak sedang tamak ke hartanya, tetapi antum sedang belajar kepada mereka. Dahulu saya suka ceramah di kalangan orang-orang kaya. Waktu saya ceramah di rumahnya Abu Rizal Bakrie yang saat itu sedang berduit-duitnya, saya duduk dalam 1 karpet, ketika krismon pada waktu itu, sekretarisnya bilang pada waktu itu, tahu tidak berapa harga karpet ini. Saya bilang tidak tahu, saya pikir sejadah biasa. Dia bilang karpet ini harganya 100 ribu dollar. Karpet kecil harganya 1,6 M. Waktu saya selesai ceramah dikasih amplop, amplopnya tipis. Saya bilang sama sekretarisnya. Ini amplop kembalikan kepada dia. Bilang sama beliau saya cuma ingin berkawan dengan dia. Dia belajar agama sama saya, saya belajar dunia sama dia. Kalau saya terima ini, nanti saya dianggap ustadz dan dia tidak dengar kata-kata saya. Saya mau bersahabat dengan dia. Jangan kasih saya amplop lain kali. Supaya kita bergaul. Setiap kali saya datang ke kelompok yang pengusaha kaya itu saya selalu menolak, saya tidak terima ini saya ingin bergaul dengan bapak, saya ingin jadi teman.

Alhamdulillah dari situ saya banyak teman dari kelompok orang-orang kaya, dan kalau datang kita belajar, saya bertanya sama mereka kenapa begini, bagaimana caranya, bertanya kita belajar. Memang di jurusan saya dia belajar dari saya kalau ada yang perlu didoakan panggil saya, bisa. Tapi kan saya tidak punya ilmu bikin duit sebelumnya, saya perlu belajar dari orang yang ahli. Jadi dalam bab itu saya murid, dalam bab saya dia murid. Jangan karena kita sering ceramah, terus semua orang kita anggap murid dalam segala aspek.

Saya bergaul dengan orang-orang kaya dan saya belajar dengan mereka. Saya belajar bagaimana caranya bikin duit, bagaimana caranya bikin perusahaan sama-sama dan saya tidak malu. Bergaul dengan mereka itu dari sekarang. Jangan tamak pada hartanya tetapi ambil ilmunya. Jangan minder bergaul dengan orang kaya seperti itu. Awal lahirnya reformasi, setelah kalah dalam pemilu 1999, kita Poros Tengah kumpul di rumahnya Fuad Bawazir. Semua orang diam, ada Amin Rais, Yusril, semuanya diam karena main. Karenanya kita semuanya kalah, tadinya sombong semua. Pak Amin Rais mengatakan sebelum pemilu, “Nanti Golkar kita lipat-lipat, kita tekuk-tekuk, kita kuburkan di masa lalu.” Tidak tahunya Golkar masih di nomor 2. Partainya Pak Amin rendah perolehan suaranya. Suara umat Islam rendah, Jadi berkumpulah orang-orang kalah ini selama 2 hari. Waktu itu Pak Amin sedang dikejar-kejar terus oleh Dubes Amerika untuk membuat pernyataan bahwa pemenang pemilu legislatif yang paling layak jadi Presiden, tapi Pak Amin menghindar. Jadi saya datang ke rumah Pak Fuad Bawazier, saya bilang Pak Fuad, saya ini bukang orang politik, saya ini ustadz. Yang saya pelajari dalam syariat kita ini kalau kita sedang kalah seperti ini jalan keluarnya adalah i’tikaf. Kita belajar banyak istighfar, tilawah dan seterusnya. Jauhi dulu wartawan, mungkin dosa-dosa kita banyak sehingga kita kalah. Dia bilang bener juga ya. Cuma kalau kita i’tikaf di Indonesia tetap saja diketahui wartawan. Kalau begitu kita umrah, Antum ikut ya dari PKS umrah. 4 orang dari PAN, dari PKS sekitar 3 orang, 4 orang ini naik bisnis first class, sedang kita dikasih ekonomi. Yang beli tiket dia soalnya. Mau diprotes bagaimana. Kita cuma dihargai begini, terima apa adanya dahulu. Tapi waktu itu kita dengan lugu datang menghadap Pak Fuad. Saya bilang Pak Fuad berapa harga tiket First Class. Dia bilang pokoknya 2 kali lipat dari harga ekonomi. Jadi kalau tiket ekonomi pada waktu itu 1000 dollar harga first class itu sekitar 2000 dollar. Kenapa kita tidak sama-sama di kelas ekonomi saja, dan selisihnya kita infaqkan untuk orang miskin. Ini kan masyarakat kita lagi susah. Dia ketawa dia bilang ya akhi, nanti ini ana infaq lagi insya Allah untuk orang faqir, tapi ana tolong dong di first class tidak mungkin ana turun di kelas bawah.

Kita tidak tahu apa nilai yang berkembang pada orang kaya, kenyamanan itu adalah nilai pada mereka. Mereka menghemat energi, tenaga. Dan, angka besar pada kita itu angka kecil bagi mereka. Uang 1 milyar 2 milyar itu uang jajan. Kalau kita, belum tentu punya tabungan sampai mati sejumlah itu. Itu masalah cita rasa. Cita rasa pada orang kaya itu berbeda. Ini yang kita pelajari, yang dianggap besar oleh mereka itu adalah ini. Dengan begitu kita menjiplak sedikit emosinya. Karena dalam pergaulan itu, kalau kita bergaul dengan seseorang itu, kalau bukan api dia parfum, Kalau dia parfum dia menyebarkan wangi, kalau dia api menyebarkan panas, Orang jahat itu api, kalau anturn dekat-dekat akan menyebarkan panas. Orang baik itu parfum, kalau antum dekat-dekat setidak-tidaknya bau badan kita tertutupi oleh parfum tersebut. Jadi ikut-ikut karena kita ingin perbaiki selera. Jadi antum kalau punya waktu-waktu kosong jalang-jalanlah ke mall, lihat-lihat orang kaya tidak usah belanja, liha-lihat saja dulu, memperbaiki selera. Datang ke showroom mobil, datang ke pameran mobil, lihat-lihat pegang-pegang. Rajinlah berdo’a. Bergaullah dengan orang kaya.

Selain itu, rajinlah berinfaq walaupun kita miskin. Gunanya apa? Supaya antum tetap mengganggap uang itu kecil dan supaya tidak ada angka besar dalam fikiran kita. Misalnya kita punya tabungan 10 juta, infaqkan. Supaya antum meneguhkan, mesti ada yang lebih besar dari ini. Jadi angka itu terus bertambah di kepala kita, walaupun dalam kenyataannya belum. Tetapi dengan berinfaq seperti itu, kita memperbaiki cita rasa kita tentang angka. Bukan sekadar dapat pahala tetapi efek tarbawinya bagi kita akan bertambah terus. Kita belum pernah merasakan bagaimana menginfaqkan mobil, sekali waktu kita berusaha untuk menginfaqkan mobil. Begitu antum punya uang sedikit terus berinfaq, terus seperti itu kita latih sambil menjaga jarak. Kita membuat sirkulasi jadi bagus.

Kelima adalah mulailah melakukan bisnis real. Terjun ke dalam bisnis secara langsung. Karena Rasulullah SAW mengatakan 9 per 10 rezeki itu ada dalam perdagangan. Saya juga ingin menasehati ikhwah-ikhwah yang sudah jadi anggota DPR dan DPRD, jangan mengandalkan mata pencaharian dari gaji DPR dan DPRD. Itu bahaya. Sebab belum tentu kader-kader di Riau ini nanti masih menginginkan Pak Khairul untuk periode selanjutnya. Belum tentu juga jama’ah menunjuk kita lagi sebagai anggota dewan, padahal gaya hidup sudah berubah. Anak-anak kita kalau kenalan dengan orang, bapak saya anggota dewan padahal itu hanya sirkulasi. Jadi setiap kali kita mendapatkan pendapatan dari gaji karena pekerjaan seperti ini, kita-harus hati-hati itu bahaya. Jadi pendapatan paling bagus itu tetap dari bisnis. Oleh karena itu, mulai sekarang itu belajarlah terjun ke dunia bisnis.

Jatuh bangun waktu bisnis tidak ada masalah, terus saja belajar. Tidak ada juga orang langsung jadi kaya. Yang antum perlu terus berbisnis. Begitu juga dengan para ustadz, teruslah bisnis. Begitu juga dengan seluruh pengurus DPW-DPD dan seterusnya. Teruslah berbisnis. Lakukan bisnis sendiri. Sesibuk-sibuknya kita, kita perlu mempunyai bisnis sendiri sekecil-kecilnya. Tidak boleh tidak. Itulah sumber rezeki yang sebenarnya. Kalau antum mau kaya sumbernya adalah dagang. Rezeki itu datangnya dari 20 pintu, 19 pintu datangnya dari pedagang dan hanya 1 pintu untuk yang bekerja dengan keterampilan tangannya, yaitu para professional. Misalnya akuntan itu kan professional, pekerja pintar, tapi kalau sumber rezekinya satu makanya uangnya terbatas. DPR juga begitu sumbernya satu, yakni gaji bulanan, itu hanya 5 tahun. Itu pun kalau tidak di PAW sebelumnya. Jadi kalau saya ketemu dengan ikhwah dari dewan, hari-hati jangan sampai mengandalkan mata pencaharian dari situ. Selain itu potongan dari DPP, DPW, DPD juga besar. Untuk ma’isyah sendiri kita harus cari di sumber lain.

Waktu kita terjun ke bisnis, kita pasti gagal. Gagal pertama, gagal kedua, gagal ketiga, gagal keempat tapi teruslah jangan pernah putus asa. Saya punya partner bisnis. Dia mulai bisnis umur 16 tahun, semua jenis pekerjaan sudah dia lakukan. Pada suatu waktu dia mempunyai 38 perusahaan tapi dari 38 perusahaan ini hanya 6 yang menghasilkan uang, Kita lihat berapa ruginya. Jadi seringkali kita salah pandang terhadap orang kaya. Kita pikir tangannya tangan dingin semua yang disentuh jadi uang. Ternyata tidak juga.

Jadi hal-hal seperti itu harus kita hadapi secara wajar jangan shock kalau rugi. Jangan berfikir dengan berdagang antum akan cepat jadi kaya, yang menentukan antum cepat berhasil dalam dagang itu adalah secepat apa antum belajar. Cara belajar itu ada dua: baca buku atau sekolah atau bergaul dengan orang-orang sukses, nanti kalau sudah baca buku sudah bergaul dengan orang sukses, masih gagal juga. Teruslah berdagang, teruslah-bergaul, teruslah seperti itu karena setiap orang tidak tahu kapan saatnya dia ketemu dengan momentum lompatannya.

Jumat, 18 Januari 2013

11 tahun kemudian ..

Bismillah.



 
Apr 26, '05 10:48 PM
untuk semuanya
Tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi dengan diri, keluarga maupun sahabat-sahabatnya dalam beberapa jam, hari atau beberapa bulan kemudian. Apalagi bila kita diminta untuk membicarakan perihal “nasib” diri sendiri atau nasib keluarga dan sahabat kita sepuluh tahun kemudian! Begitulah, saya percaya bahwa saya tak boleh mempercayai manusia manapun yang mencoba meramal masa depan siapa pun. Ia misteri yang perlu kita jelang dengan segenap upaya baik dan kekuatan doa.
Hari itu, Agustus 1994 di Balairung UI-Depok. Saya dan beberapa panitia sedang mempersiapkan acara OPT (Orientasi Perguruan Tinggi) bagi mahasiswa baru se-UI. Waktu itu saya yang bertugas sebagai sie acara, sempat berfoto bersama beberapa sahabat baik saya di kampus.
“Kita foto bareng yuk!” seru saya sambil meminta seorang teman yang membawa tustel untuk mendekat dan memotret kami.
Sahabat saya yang semuanya lelaki ini nyengir. Foto? Untuk apa? Bukankah selama ini kita sudah selalu bersama?
“Mungkin ini akan menjadi foto terakhir kita sebelum pergi dari UI. Saya ingin menatapnya sepuluh tahun lagi, saat kita entah jadi siapa dan berada di mana.”
Semua tertawa. “Romantis sekali,”celutuk entah siapa.
Zul, Kamal, Indra dan Isa tertawa.“Ayo deh,” seru mereka serempak. Zul yang baru saja terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa UI tahun itu tampak lebih tersipu-sipu dibandingkan yang lain. Waktu itu Kamal adalah mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra, sedang Indra, saya dan Isa aktif di senat mahasiswa fakultas dan senat universitas. Isa tercatat sebagai satu-satunya anggota tim nasyid Snada, yang bukan berasal dari FISIP UI.
“Ya, mungkin sekarang foto ini tak begitu penting,” ulang Zul.
“Tapi sepuluh tahun lagi bisa menjadi kenangan indah,” kelakar Kamal.
Indra tertawa. “Ayo dong, kapan fotonya nih?”
Isa mengambil posisi di depan piano sambil menekan beberapa tuts-nya.
Saya tak ingat siapa yang mengambil foto tersebut. Saya hanya tahu bahwa saya menyimpan foto ini di komputer saya selama lebih dari sepuluh tahun, tepatnya sebelas tahun!
Dan kini, tiba-tiba saja, sebelas tahun telah berlalu. Siapakah kita sekarang, sahabat? Dulu kita semua aktivis mahasiswa di UI dan sekarang kemana idealisme itu membawa langkah kita?
Mustafa Kamal, pernah menjadi salah satu anggota KPU termuda saat KPU baru berdiri. Kini ia anggota DPR-RI dari PKS.
Zulkieflimansyah, alumnus FEUI ini sempat kuliah di Inggris, mendapat gelar doktornya pada usia belum 30 tahun. Kini seperti Kamal, ia pun anggota DPR RI dari PKS.
Indra J. Piliang, dulu memegang jabatan struktural di PAN, kini aktif sebagai peneliti di CSIS dan pengamat politik.
Isa Alamsyah, kini wartawan televisi NHK Jepang dan wiraswastawan, ia sudah lama mengundurkan diri dari Snada. Hey, tahun 1995, setahun setelah pemotretan ini, ia menikah dengan Asma Nadia, adik saya!
Dan saya, Helvy, sebelas tahun kemudian, saya seperti apa yang sekarang teman-teman lihat. Tiba-tiba saya menjadi istri Mas Tomi, menjadi bunda Faiz. Menjadi penulis fiksi, dosen sastra, dan anggota Dewan Kesenian Jakarta.
Ah, darimana dulu kami, saya memulainya? Berapa lagi masa yang tersisa untuk melakukan hal-hal yang lebih berarti?
Waktu, hidup, kita, semua menggelinding. Kita memang tak akan pernah tahu apa dan siapa kita sepuluh tahun mendatang. Tapi percayalah, kita telah menentukan arahnya hari ini, atau mungkin belasan tahun lalu, saat kita melakukan sesuatu. Bahkan jauh sebelumnya, aroma “sesuatu” itu samar sekali pernah kita cerna saat ruh kita ditiup, dan Allah berkata: Kun!
Kita pun berjalan dan menguak semua dengan langkah, upaya dan barangkali doa-doa. Lalu bagaimana dengan saya, Zul, Kamal, Indra, Isa dan Anda, sepuluh tahun mendatang dari sekarang?
Mulailah melangkah lagi. Mungkin dengan menyebut namaNya di jalan keyakinan, mungkin masih dalam abai yang sama. Pilihan yang kita tentukan sendiri dengan berlari, atau bahkan dengan sangat tertatih. Tapi selama masih ada nafas, kita semua berpeluang sampai pada derajat itu. Menjadi “seseorang”. Memahatkan “ada” di bumi dan tentu saja di langit. Ya, meski tak pasti, berapa lagi masa yang tersisa bagi kita. Hidup di dunia memang untuk itu: memahatkan "ada" kita, sekecil apapun. Dan belum terlambat untuk memulainya lagi hari ini....

(Helvy Tiana Rosa)
 
dari sini

Rabu, 16 Januari 2013

tauji dari bapak

Oleh: Faidul Hidayati Siska Ginting


Hari ini bahagia benar-benar melingkupi rongga dada. Bertemu sesama ikhwah memang selalu mampu meniup bara. Benarlah ungkapan yang menyatakan bahwa orang sholih dapat menularkan kesholihannya meski hanya dengan bertatap muka. Orang sholih itu adalah ketika kamu melihatnya maka kamu mengingat Allah.

Apa yang dirasakan Zainab Al-Ghazali ketika dipenjara dalam ruang teramat sempit di Mesir, tadi kurasakan juga, meski tak sampai seujung kuku. Jika Zainab merasa bertambah imannya ketika mendengar suara bersin yang diyakininya adalah suara bersin Sayid Quthb, maka tadi aku pun merasakannya. Bahagia benar-benar membuncah saat bisa menatap salah satu qiyadah Indonesia, Ustadz Luthfi Hasan Ishaaq. Bertambah sumringah saat di belakang beliau turut pula Ustadz Tifatul Sembiring dan Ustadz Chairul Anwar (yang membuat saya bertekad harus membuat buku tentang sejarah dakwah).

Subhanallah, walhamdulillah, Allahu akbar.. semangat bertambah berlipat-lipat, pikiran menjadi lebih terang dan hati pun bahagia sekali. Padahal saat itu baru sampai tahap melihat beliau berjalan di depan mata, belum berkata apa-apa...subhanallah. Rasa-rasanya ingin kuserap sebanyak mungkin energi positif yang mereka pancarkan. Menyedot banyak-banyak semangat yang mereka tularkan. Maka saya pun tulis ulang beberapa taujih dari Ustadz Luthfi dan Pak Tif…


Ustadz Luthfi mengingatkan bahwa kita tidak boleh mendikotomikan antara Ishlahul mujtama' dan ishlahul hukumah. Tidak ada dikotomi dalam dakwah. Rasulullah dan para sahabat ra pun tidak pernah mendikotomikan dakwah.

Mari kita renungi kembali sirah Rasulullah saw. Habibullah dan sahabat-sahabatnya mengajak tiap pimpinan Negara untuk berislam. Jika raja/kisra/pimpinan itu menolak, maka diminta untuk membebaskan yang tertindas di negeri tersebut. Jika ditolak juga, barulah setelahnya pengumuman perang dikumandangkan.

Setelah itu siapakah yang ditunjuk Rasulullah saw sebagai pemimpin? Tentu saja para da'i-da'i terbaiknya, binaan-binaannya yang tangguh. Pemimpin yang memahami Islam secara kaffah. Artinya sangat tidak tepat jika kita menganggap da'i tidak boleh menjadi pemimpin negeri.

Jika kita sudah menyadari bahwa dakwah kita juga mengikuti dakwah Rasulullah. Kita meyakini bahwa yang kita lakukan selama ini adalah upaya-upaya kita mencontoh Habibullah. Harus yakin betul bahwa kita adalah kelompok yang berusaha keras menjadi sholih dan mensholihkan orang lain. Ada beberapa ketentuan yang harus kita yakini;

1. Dalam berkompetisi kita harus yakin bahwa tiada kemenangan kecuali kemenangan yang murni datang dari Allah. Tidak boleh bercampur-campur keyakinan ini. Tidak boleh ada keraguan. Jika kita masih berpikir kemenangan itu ada campur tangan lain, maka Allah akan cabut kemenangan itu. Bukti keyakinan kita yang tiada bercampur itu adalah adanya ta'yid robbani. Karena kita sadar kemenangan itu datang dari Allah, maka kita pun terus mendekat kepadaNya.

2. Kita harus yakin bahwa Alah akan memberikan kemenangan kepada orang-orang yang murni tujuannya untuk menegakkan kalimat Allah. Murni iqamatillah. Jika ada bisikan-bisikan lain dalam tiap usaha dakwah kita. Jika ada bersitan-bersitan kepentingan lain dalam dakwah kita. Mohon ampunlah. Jangan sampai kita mengikuti rayuan dunia itu sehingga Allah meng-exclude kan kita dari panggung dakwah. Karena kita tahu betul bahwa Allah akan tetap menangkan dakwah, dengan atau tanpa kita. Untuk memurnikan niat dalam berdakwah ini, dibutuhkan azzam dan himmah yang kuat. Biar godaan-godaan itu tidak melemahkan. Agar kita tidak dikeluarkan Allah dari panggung dakwah maka kita harus benar-benar berjuang dengan segala potensi yang kita miliki. Laksanakan sa'yul basari. Penuhi faktor-faktor kemenangan secara duniawi. Jika poin pertama kita tingkatkan kualitas hubungan dengan Allah. Maka poin ini kita juga harus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas upaya dakwah kita. Lejitkan potensi kita untuk kemaslahatan dakwah.

3. Yakinlah akan datang pertolongan Allah. Allah telah berjanji akan menolong orang-orang yang menolong agamaNya. Kita juga harus ingat bahwa dosa-dosa pribadi kita bisa saja menyebabkan tertundanya pertolongan Allah. Contoh misalnya penyakit ujub. Padahal di hadist qudsi Allah berkata dengan jelas bahwa kebesaran dan kesombongan itu adalah pakaian Allah. Barangsiapa yang sombong maka akan dihinakan Allah. Jika tawadhu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah. Siapa yang lembut dalam bermuamalah maka akan banyak pengikutnya.

Kesombongan selalu membawa kehancuran. Lihat saja Belanda yang sangat pongah sampai-sampai berani berkata,'jika negeri lain adalah negeri yang diciptakan Tuhan, tapi kami menciptakan negeri kami sendiri. Kami yang mengatur air di lautan hingga bisa ditinggali. Kami membangun dam. Tiada andil Tuhan dalam negeri kami.' Maka Allah pun membuat Belanda banjir besar di akhir abad 20.

Maka ikhwah penuhi saja poin satu dan dua, maka poin ketiga akan menyertai. Ikuti sunnah robbaniyah dengan mendekatkan diri pada Allah dan penuhi juga sunnah kauniyyah dengan melejitkan potensi dan mujahadah dakwah, maka pertolongan Allah akan datang segera. Contoh Ibrahim as yang diminta membangun Ka'bah di gurun tak berpenghuni Mekkah. Lalu Allah pun memerintah agar Ibrahim menyeru orang-orang untuk mengunjungi Ka'bah. Ibrahim sebenarnya bingung, kepada siapa ia akan menyeru padahal lembah itu berpenghuni pun tidak. Tapi Allah berkata, serukan saja hai Ibrahim. Dan kini kita pun menjadi saksi betapa ramainya Ka'bah jika musim haji tiba.

Maka ikhwah, laksanakanlah segala perintah, dekatkan diri pada Allah, bekerja terus saja, masalah kekurangan dan kesulitan, biar Allah yang menambahkan dan memudahkan. Saat kita terus sa'yun basari, melakukan segala perintah dengan bermujahadah, maka insya Allah orisinalitas dakwah akan terjaga.

Orang-orang banyak berbisik meragukan dakwah kita dengan melihat kejadian di Jakarta. Apa kita tidak mempelajari sirah, bukankah Rasul saw juga tidak selalu menang dalam peperangan? Ada masa beliau kalah, dicaci-maki, dilempari kotoran, dilempari batu hingga berdarah-darah. Saat dakwah di Thaif misalnya yang begitu memilukan hati. Namun kejadian itu bukan melemahkan Rasulullah, tapi justru menguatkan. Membuat Muhammad saw semakin mendekat memohon kekuatan pada Allah swt. "Allah, aku tidak peduli apa yang terjadi padaku. Apakah aku akan dihajar musuh atau kembali pada kerabat. Aku tidak peduli apapun yang terjadi. Asal jangan Engkau murka padaku." Begitu Rasulullah saw curhat kepada Allah.

Jadi konsolidasi pertama yang harus kita bangun adalah konsolidasi kepada Allah. Koalisi kepada Allah haruslah mendahului koalisi-koalisi lain. selalu minta kekuatan dan petunjuk kepadaNya. Karena hanya Alah tempat berpegangan yang paling kuat.

"Siapa yang bersandar pada ketokohan, ia akan hancur. Siapa yang bersandar pada harta maka ia akan kekurangan. Siapa yang bersandar pada akal, maka ia akan sesat." Maka jelaslah hanya Allah tempat kita berpegang teguh.

Konsolidasi selanjutnya adalah konsolidasi ikhwah. Jangan pernah nodai ukhuwah. Jangan su'udzon terhadap saudara kita. Hak minimal yang harus kita penuhi terhadap ikhwah adalah senantiasa husnuzhan kepadanya. Ingatlah ikhwah, menodai ukhuwah bisa jadi membuat Allah palingkan kemenangan. Jangan pernah izinkan hati untuk iri dengki apalagi sakit hati kepada saudara sendiri.

Kita itu jundullah. Tentara Allah. Tentara itu, rijal itu, tahan banting. Kalau dibanting ia jatuh, namun bangkit lagi dan bisa membanting. Rijal itu tahan banting, bisa membanting, tidak akan pernah berubah aqidah, tidak akan merubah fikrah dan tidak juga merubah akhlakul karimah. Dengan siapa pun ia berbaur. Jadi tidak perlu khawatir. Apa guna tarbiyah bertahun-tahun jika digoda sedikit saja sudah berubah fikrah. Masa iya berbaur sedikit saja akhlak terpuji pun dilupa.

Ingat surat Al-Fath bahwa kemenangan nyata itu disebabkan konsolidasi kita dengan Allah. Kalaupun masih ada kurang-kurang, banyak-banyaklah beristighfar, biar Allah yang menyempurnakan. Jika kita bisa dengan baik berkonsolidasi dengan Allah dan ikhwah, maka dengan siapa pun kita bisa mewarnai dengan nilai-nilai dakwah.


Allahummanshur dakwatana wa baligh ukhuwatana Yaa Allah..
Allah, jadikan kami orang-orang yang menepati janji...
Jadikan kami orang-orang yang selalu berkontribusi sebaik yang kami mampu...
Jadikan kami orang-orang yang segera memuhasabah lalu memperbaiki diri.hingga kami pantas mengemban risalah ini. Menjadi rahilah-rahilah-Mu, yang selalu meringankan beban bukan malah menambah. Biar kami bisa selalu menjadi jundiMu yang berarti, bukan sekadar menambah deretan nama tanpa kontribusi.


Nangro Aceh Darussalam, Januari 2013

Faidul Hidayati Siska Ginting

Sabtu, 12 Januari 2013

Rapatkan

sebuah pesan Darwis Tere Liye untuk anaknya, Pasai

Rapatkan.
Dengarkan bapakmu, anakku Pasai
Kelak, saat kau beranjak besar, maka rapat dan luruskan barisan shalatmu bersama teman-temanmu.
Rapat dan lurus. Bahu bertemu bahu. Tumit bertemu tumit. Jangan berikan celah.
Maka sungguh, separuh saja kau dan teman-temanmu seluruh muslim di seluruh dunia ini melakukannya, maka sungguh, jangan bangsa yang tercela dalam banyak kitab suci itu, 100 Fir’aun akan gentar kepada kalian.
Dengarkan bapakmu, anakku Pasai
Kelak, saat kau beranjak besar, maka rapat dan luruskan barisan shalat berjamaahmu.
Rapat dan lurus. Bahu bertemu bahu. Tumit bertemu tumit. Jangan berikan celah.
Belajarlah dari generasi kami; jangankan rapat dan lurus, pergi ke masjid pun malas. Jangankan separuh, entah tinggal berapa lagi yang masih rajin memakmurkan masjid-masjid.
Maka jangankan bicara tentang persatuan ummat, yang ada saling berburuk sangka dan terpecah belah.
Dengarkan bapakmu, anakku Pasai
Rapat dan luruskan barisan shalatmu.

Rabu, 02 Januari 2013

Kesaksian Kecil Tentang Halaqah

Kesaksian Kecil Tentang Halaqah


Saya baru saja pulang dari halaqah, dan tiba-tiba memikirkan sesuatu, random.

Saya merasakan begitu luar biasanya halaqah atau liqa. Jujur saja, saya seringkali merasa berat untuk berangkat halaqah. Tetapi, selalu saja setelah saya datang sampai setelah pertemuan itu berakhir, ada rasa syukur yang besar yang memenuhi hati saya.

Entah bagaimana, pertemuan-pertemuan halaqah selalu relevan dengan kehidupan yang sedang saya jalani. Dengan halaqah, celah-celah, retakan-retakan, dan lubang-lubang kehidupan menjadi nampak, lalu entah bagaimana, kita menjadi lebih berenergi untuk memperbaiki dan menutup celah, retakan, ataupun lubang-lubang itu.

Padahal kami tidak membicarakan topik yang spesifik mengenai urusan hidup. Kami membicarakan sesuatu yang mungkin abstrak, juga hal-hal yang mendasar. Tak jarang juga yang kami bicarakan sebenarnya sudah diulang beberapa kali, tetapi pengingatan-pengingatan itu tetap saja berkesan dan mengena.

Dengan halaqah, saya selalu dibuat kembali melihat kehidupan dan urusan-urusan manusia di dalamnya sebagai perkara kecil dan remeh temeh. Hal-hal yang saya pusingkan di suatu waktu, yang saya anggap hal besar dan rumit pada suatu ketika, dengan halaqah saya kembali melihat itu semua sambil berkata, “Masya Allah.. Ada yang salah dengan saya saat itu”.

Beberapa orang di luar sana mungkin suka menertawakan halaqah atau liqa. Kata itu mereka jadikan ejekan bagi kelompok tertentu. Mungkin ketika mereka melihat lingkaran-lingkaran halaqah, persepsi negatif muncul di pikiran mereka. Baik tentang materinya, tentang stereotip orang-orang di dalamnya, atau mungkin juga ada yang mengait-ngaitkan dengan entitas politik tertentu dan konspirasinya.

Kepada orang-orang yang demikian, saya hanya ingin tertawa sekaligus kasihan.

Sungguh, urusan-urusan dunia ini tidak ada harganya dibandingkan dengan kerinduan kami untuk menjadi orang-orang yang paling dekat dengan Allah. Andai kalian mau mengambil semua yang ada di dunia ini, ambillah sesuka kalian.. Ambillah, dan tidak perlu sisakan untuk kami.. Selama kalian bisa tunaikan misi yang Allah pesankan kepada manusia.

Andai dunia ini baik-baik saja, semua orang sejahtera, tak ada kezhaliman terjadi, mungkin kami akan lebih memilih untuk menghabiskan usia kami di masjid, berinteraksi dengan Al-Quran, bertemu Allah dalam shalat-shalat.

Ya, sayangnya memang kehidupan ini tidak diprogram demikian. Nyatanya, justru keimanan harus dibuktikan dengan bekerja keras mencegah kebatilan, menebar mashlahat, mengajak manusia kepada kebaikan. Dan dalam perjalanannya akan selalu terjadi dinamika. Dinamika yang datang akibat ketidaksempurnaan kita sebagai manusia, akibat nafsu yang sesekali menguasai, akibat segelintir orang yang lupa diri, akibat bisikan syetan di sana sini, dan sebagainya.

Ya, memang seperti itulah kehidupan diprogram. Memang itulah harga yang harus dibayar untuk mendapat kebahagiaan hakiki, kebahagiaan abadi.

Segala puji hanya untuk-Mu, ya Allah.. Sesungguhnya aku hanyalah hamba lemah dan tersesat yang Engkau beri cahaya.. Tetapkanlah aku berada di jalan cahaya-Mu.. Lindungilah aku dari diriku sendiri, yang selalu cenderung kepada kegelapan.. Bukakanlah hatiku selalu, agar hidayah-Mu senantiasa merasukinya..
Aku juga memohon hidayah-Mu untuk semua orang yang membaca ini.. Jagalah kami untuk bersama-sama saling menjaga dalam kebaikan, keimanan..
Amin..
 
dari sini